Menalak Karena Permintaan Istri

|


Apakah boleh seorang suami menceraikan istrinya yang terus-menerus meminta untuk diceraikan, hanya karena ia belum bisa memenuhi kebutuhan materi yang dituntut istrinya itu, padahal ia telah mencari nafkah semaksimal mungkin? Pertanyaan ini muncul ketika silaturahim ke teman saya, tapi akhirnya ketemu juga jawabannya.
Asal hukum talak atau cerai adalah makruh. Perbuatan ini termasuk perbuatan makruh yang paling dibenci Allah SWT. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, " Yang paling dibenci antara perbuatan yang halal di sisi Allah adalah perceraian. "Syaikh Ibrahim Al-Bajuri dalam hasyiyahnya atas kitab Fath Al-Qorib menyatakan yang dimaksud dengan kata "halal" dalam hadits yang mulia ini adalah "makruh", karena sesungguhnya ia halal dengan arti boleh, tetapi dibenci Allah, sebab perbuatan itu dilarang, meskipun dengan larangan yang bersih dari dosa. Artinya, apabila dilakukan, tidak berdosa. Talak dengan memandang kemakruhannya termasuk sesuatu yang halal, tetapi sangat dibenci Allah dibanding perbuatan makruh lain, karena di dalamnya terdapat pemutusan nikah, padahal nikah itu sesuatu yang dituntut oleh syara.
Perbuatan istri, yang sering minta cerai kepada suaimi, tanpa sebab yang dibolehkan dalam syara, menunjukkan bahwa ia memiliki perangai yang buruk. Misalnya, ia minta cerai karena suaminya belum mampu memenuhi kebutuhan materinya padahal si suami telah berusaha. Perempuan yang demikian tergolong perempuan yang jelek perangainya. Dalam hadits yang diriwayatkan Tsauban, disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengatakan, "Siapa saja perempuan yang minta cerai kepada suaminya tanpa suatu sebab, diharamkan atasnya bau surga." Hadits riayat Al-Khamsah (lima perawi hadits) kecuali an-Nasa'i. 
Dan menceraikan istri yang buruk perangainya adalah sunnah, tetapi kesunnahannya itu adalah apabila si suami benar-benar tidak bisa bersabar lagi atas perangai buruk istrinya. Dan juga bukan karena siasat suaminya yang sengaja terus-menerus melakukan sesuatu agar istrinya tidak bisa bersabar lagi dan akhirnya minta cerai. Suami yang berbuat demikian tentu berdosa. 
Kalau seorang istri hanya sekadar sekali-sekali saja menunjukkan sesuatu yang tidak disukai, tentu hal itu belum sampai pada kriteria disunnahkan untuk diceraikan. Apalagi, pada masa sekarang sangat sulit mencari istri yang benar-benar taat. Karena itu, dalam sebuah hadits dikatakan. "Perempuan yang shalihah di antara perempuan yang ada adalah laksana burung gagak yang putih kedua sayapnya."
Hadits di atas merupakan kiasan bahwa jarang terdapat perempuan yang benar-benar shalihah. Karena itu, seorang suami tetap diminta kesabarannya menghadapi keburukan perangai istrinya asalkan keburukannya itu belum keterlaluan atau melampau batas. Jadi jika masih bisa dipertahankan, menceraikannya belum termasuk hal yang disunnahkan, meskipun boleh dilakukan.
Baca Selengkapnya - Menalak Karena Permintaan Istri

Sandal Yang Ditemukan Masjid

|

Selesai menunaikan ibadah sholat biasanya ditemukan sandal orang lain yang tertinggal atau bahkan tertukar dengan sandal yang ada. Kemudian ada sejumlah pertanyaan yang muncul dari jama'ah tentang kebolehan memakai sandal tadi. 
Kalau yang dimaksud memakai sandal itu adalah menggunakannya sebentar untuk berwudhu atau untuk keperluan lain kemudian langsung mengembalikannya ke tempatnya, boleh, asalkan yakin bahwa pemilknya ridho. Tetapi bila yang dimaksud adalah mengambilnya untuk memiliki, maka tidak boleh (haram), karena yang ditemukan adalah barang temuan (luqathah). 
Dalam itab Bughyah al_Mustrasyidin dijelaskan, termasuk (mengambil) luqathah (barang temuan) adalah mengganti / menukar sandal miliknya dengan sandal orang lain kemudian mengambilnya. Tidak halal memakainya kecuali setelah diumumkannya sesuai dengan persyaratan, atau sudah yakin bahwa si pemilik memang sengaja meninggalkannya.
Baca Selengkapnya - Sandal Yang Ditemukan Masjid

Kenapa Telinga Berdengung

|

Ketika saya berjalan bersama teman-teman, salah satu teman saya bertanya kepada saya kenapa telinganya kadang-kadang sering berdengung. Lalu saya jawab dengan syarah yang ada, yaitu sesungguhnya suara "nging" (berdengung) dalam telinga itu karena Rasulullah SAW menyebut orang yang telinganya bersuara itu dalam perkumpulan yang tertinggi (al malail a'la) dan supaya ia ingat kepada Rasulullah SAW dan membaca shalawat kepada beliau. Dalam kitab al 'Azizi 'ala Jami'ish Shaghir dikatakan, "Jika telinga salah seorang kalian berdengung,  hendaknya ia mengingat aku (Rasulullah SAW) dan membaca shalawat kepadaku serta mengucapkan Dzakarallahu man dzakarani bikhayr (Allah menyebut yang menyebutku dengan kebaikan). "Imam Al Manawi berkata, "Sesungguhnya telinga itu berdengung ketika datang berita baik ke ruh, yaitu Rasulullah SAW telah menyebut orang tersebut (pemilik telinga yang berdengung) dengan kebaikan di al malail a'la (perkumpulan atau majelis tertinggi) di alam ruh."
Baca Selengkapnya - Kenapa Telinga Berdengung

Mengatasi Waswas

|

Teman lak-laki saya menanyakan masalah kegundahan hatinya ketika ia harus menghadapi suatu masalah ataupun dalam hal beribadah. Oleh karena itu saya mencoba mencari rujukan yang tepat untuk menjawab persoalan tersebut. Kemudian jawaban tersebut saya temukan dalam syarah Imam Al – Ghazali.
Menurut Imam Al – Ghazali waswas disebabkan kemakrifatan kita kepada Allah sedikit goyah dikarenakan bisikan setan. Kemakrifatan yang dimaksud di sini tentu bukan yang berkaitan dengan sifat wahdaniyah (keesaan) Allah Ta’ala, tetapi berkaitan dengan sifat Maha Melihat dan Mendengar yang dimiliki Allah SWT.
Sebenarnya dalam benak kita sudah tertanam keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar dan Melihat apa yang telah, sedang atau akan kita lakukan. Namun bisikan penggoda kemudian menurunkan kadar keyakinan kita, bahkwan kepada diri kita sendiri.
Cara menyembuhkannya, menurut Imam Al Ghazali, adalah dengan memantapkan hati bahwa wudhu dan shalat kita hanya untuk Allah Ta’ala. Hanya Allah yang berhak menilai ibadah kita. Saat mulai berwudhu, misalnya, kita langsung meyakinkah hati dan akal kita bahwa Allah pasti sudah melihat ibadah kita dan mendengar niat kita yang melakukannya dengan benar.
Begitu suatu rukun wudhu sudah kita lakukan tiga kali, langsung saj kita lanjutkan ke rukun berikutnya. Tepis bisikan-bisikan yang membuat kita ragu. Ucapkan dalam hati, “Wudhuku ini untuk Allah, bukan untukmu, hai setan.” Insya Allah perlahan rasa waswas akan hilang.
Ikhtiar lainnya, setiap usai shalat, jangan lupa membaca surah An-Nas lima belas kali, dengan niat memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan setan yang membuat hati kita waswas.
Baca Selengkapnya - Mengatasi Waswas

Apakah Islam Mengakui Reinkarnasi?

|

Beberapa minggu yang lalu saya mendapatkan pertanyaan dari seseorang tentang reinkanarsi menurut Islam seperti apa? Maka saat itu juga saya menjawab dengan syarah yang pernah dijelaskan Habib Luthfi dalam rubrik majalahnya.
Saya jawab kalau dalam agama lain memang ada reinkarnasi, namun dalam Islam tidak ada yang namanya reinkarnasi dalam arti ruh seseorang dikembalikan ke dunia untuk menjalani kehidupan kedua, ketiga, dan seterusnya, dalam bentuk yang berbeda, sesuai perbuatannya di kehidupan sebelumnya. Menurut Islam, seseorang yang sudah dipanggil kembali kepada Allah, ruhnya akan tinggal di alam barzakh. Melalui pintu kubur, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Ruh si mayit tidak akan pernah dikembalikan ke dunia untuk mengulang kehidupannya untuk kali kedua dan seterusnya. Sebab ia sudah mendapatkan jatahnya selama sekian waktu menjalani kehidupan dan melakukan berbagai amal perbuatan, yang baik maupun yang buruk.
Rekaman perbuatannya selama hidup itulah yang kemudian akan terus hidup di dunia dan menjadi pelajaran bagi orang yang masih hidup, terutama keturunannya.
Jika baik, perbuatan itu akan menjadi keteladanan yang akant erus dihidupkan-hidupkan kembali oleh anak-cucu dan orang di sekitarya. Tapi jika buruk, perbuatan orang tersebut akan terus dikenang sebagai contoh buruk yang harus dihindari.
Justru karena cuma karena mendapat kesempatan sekali itulah semua orang harus berhati-hati dalam menjalani kehidupannya, agar tidak salah langkah. Yakni, dengan berpegang teguh pada syariat Allah dan Rasul-Nya.
Baca Selengkapnya - Apakah Islam Mengakui Reinkarnasi?

Tahajjudnya Nabi

|

Allah secara khusus memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menegakkan shalat malam, yang disebut dengan shalat Tahajjud. Ketika itu, beliau sedang gelisah dan berharap-harap cemas, karena sekian lama, sejak pertama kali menerima wahyu di Gua Hiro, wahyu itu tak kunjung juga datang. Hampir beliau putus asa, khawatir Allah SWT meninggalkannya.
Tak berapa lama Allah SWT menurunkan lagi wahyu, kali itu tentang pentingnya shalat Tahajud. “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya, atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran dengan perlahan.”(AS Al-Muzammil : 1-4)
Sejak menerima wahyu tersebut, Rasulullah SAW tak pernah meninggalkan shalat Tahajud, hingga wafat. Meskipun sunnah, shalat Tahajud merupakan ibadah yang sangat penting sesudah shlat rawatib alias shalat wajib, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Isra ayat 79, “Dan pada sebagian malam, bershalat Tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan. Mudah-mudahan Allah mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (maqoman mahmudah) anatara lain dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, “Shalat Tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan penyakit.” (HR. Tirmidzi).
Rasulullah serta para kekasih Allah adalah manusia-manusia teladan dalam hal mendirikan Tahajud atau shalat malam. Atha’bin Abi Rabbah RA, sahabat Rasulullah SAW, dalam sebuah riwayat  pernah berkata, “Suatu hari aku pergi ke rumah Ummul Mu’minin Aisyah RA. Aku bertanya kepadanya tentang perbuatan Nabi Muhammad SAW yang paling menakjubkan. Namun dari semua perbuatan beliau yang sangat menakjubkan itu adalah suatu malam ketika beliau sedang beristirahat tiba-tiba beliau bangkit dari tempatnya lau mengambil air wudhu dan mendirikan sholat dan dalam sholatnya air mata beliau mengalir dengan deras sekali sehingga baju yang beliau kenakan basah. Kemudian beliau bersujud dan begitu derasnya tetesan air mata beliau sehingga tanah pun basah karena iar mata beliau. Hal itu berlangsung hingga tiba waktu subuh’.
Ketika Bilal shalat Subuh bersama Nabi Muhammad SAW dan melihat menanggis dalam shalatnya, ia bertanya, “ Mengapa Tuan menangis begitu? Bukankah Tuan telah terliputi olehkasih sayang Allah SWT?
Rasulullah SAW pun menjawab, “tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.”
Baca Selengkapnya - Tahajjudnya Nabi

Istilah Dalam Isra dan Mi'raj

|

Dalam bulan Rajab telah terjadi peristiwa besar yang mewarnai perjalanan risalah Nabi Muhammad SAW yaitu Isra dan Mi'raj. Berikut ini adalah beberapa istilah yang berhubungan dengan peristiwa tersebut :

Buraq 
Asal katanya barq, yang berarti "kilat". Kendaraan yang dinaiki Rasulullah dalam perjalanan mi’rajnya dari Masjidil Aqsha yang memiliki kecepatan seperti kilat yang melesat dalam sekejap mata. Menurut riwayat Anas bin Malik, kendaraan itu menyerupai sejenis binatang yang ukuran tubuhnya lebih besar daripada keledai lebih kecil daripada bighal (hewan hasil perkawinan silang kuda dengan keledai) berwarna putih bersih lagi harum baunya.
I’jaz
Melemahkan, mengalahkan, membatalkan pendapat dengan menunjukkan hal yang benar atau sesungguhnya. Ini berkaitan dengan keistimewaan/kemukjizatan nabi.
Irhash
Kejadian luar biasa sebelum masa kenabian seorang nabi dan rasul. Adakalanya istilah ini dinisbahkan bagi peristiwa luar biasa yang dialami oleh seorang wali Allah
Isra Mi’raj
Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Yerusallem, Palestina, lalu menuju ke Sidratul Muntaha, yang berada di langit, dengan jasad dan ruh beliau, pada suatu malam, tanggal 27 Rajab tahun 11 H/620 M.
Istidraj
Hal-hal yang luar biasa yang terjadi pada diri seorang biasa yang bukan rasul, nabi, wali, atau yang orang shalih. Makna lainnya, pembiasan ajaran secara perlahan, penipuan, dan pemutarbalikan fakta.
Kasyaf
Menurut Al-Ghazali, kasyaf adalah penjelasan tentang sesuatu yang semula tertutup bagi manusia, kemudian tersinggung bagi seseorang yang mendapatkan manhajnya dari Allah SWT melalui sarana qalbu yang bening. Singkatnya, kasyaf adalah tersingkapnya tabir keghaiban. Nabi Muhammad SAW pun melalui proses kasyaf dalam melewati proses perjalanan luar biasa Isra Mi’raj. Dari proses insyirah (pembersihan hati) hingga mi’raj (Perjalanan menaiki alam langit).
Ma’unah
Peristiwa luar biasa yang dialami seorang manusia yang beriman dan beramal shalih dalam bentuk pertolongan Allah.
Mu’jizat
Peristiwa luar biasa yang dialami oleh seorang nabi atau rasul sebagai bukti atas kenabian. Dinamakan mu’jizat karena ia melemahkan bantahan orang-orang terhadap kenabian dan kerasulan. Seperti mu’jizat Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra dan Mi’raj.
(Ash)-Shiddiq
Yang membenarkan kebenaran dengan kejujuran. Gelar yang diberikan Rasulullah SAW kepada sahabat Abu Bakar RA.
Suatu ketika Abu Jahal bin Hisyam mengumpulkan orang-orang di pasar ‘Ukazh untuk mengolok-olok peristiwa Isra Mi’raj yang disampaikan Nabi kepadanya. Ketika bertemu Abdullah bin Abi Quhafah, yang dikenal dengan Abu Bakar RA, ia sampaikan olok-olok itu. Namun tanpa diduga, jawaban Abu Bakar justru meyakini dan membenarkan peristiwa tersebut. Semenjak itu gelar Ash Shiddiq melekat di belakang nama Abu Bakar RA.
Baca Selengkapnya - Istilah Dalam Isra dan Mi'raj

Hikmah Kejujuran Berumah Tangga

|

Waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB yang menandakan agar bersiap-siap untuk pergi ke masjid secepatnya. Alunan suara sholawat yang menggema dari masjid itu menjadi pembuka dari kegiatan zikir malam itu. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap Jum’at Legi itu merupakan hajat pengajian yang tak bisa ditinggalkan jamma’ah masjid itu dan lingkungan masyarakat di sekitarnya seperti diriku ini. Banyak di antara mereka yang memperoleh manfaat dari kegiatan mulia itu, seperti bisa mendekatkan diri ke sang khalik dengan penuh keyakinan yang mantap dan ditambah dengan hikmah-hikmah pengajiannya tidak kalah pentingnya.
Ratibul Athas dan Ratibul Hadad adalah bagian inti dari kegiatan penganjian itu. Dipimpin seorang habib yang ternama di kotaku, kalimat-kalimat tauhid dan doa-doa yang bersumber dari Rasulullah SAW ini di dalam dua ratib tadi sangat membekas di hati bagi para jamma’ah pesertanya di malam itu.
Mauidhoh hasanah pun tiba, pembicara kali ini adalah seorang ustad yang sangat kondang di kotaku dan dia membawakan tema tentang kejujuran dalam harmonisasi hubungan suami istri, tema yang tepat sekali untuk para jamma’ah yang terdiri dari orang tua dan anak muda yang belum berkeluarga. Suasana yang tadinya sepi kini menjadi lebih riuh dan terasa begitu hidup, dikarenakan atmosfer sang ustad yang kocak tapi penuh makna yang mendalam. Dalam uraiannya, dia mengatakan bahwa rasul selalu mengajarkan kejujuran dan menjelaskan apa adanya, sehingga jangan heran jika Rasullah mendapatkan gelar al amin (orang dipercaya) sejak masih muda. Hubungannya dengan harmonisasi suami istri adalah prinsip keterbukaan atau kejujuran atau transparansi harus selalu ditanamkan dalam berumah tangga, sehingga tidak akan muncul kecurigaan-kecurigaan yang berlebihan.
Salah satu yang saya ingat dalam ceramah saat itu ialah dialog suami istri yang berikut ini :
Suami : Bu..., pintar-pintar ya, kalau diberi amanat dalam menjaga duit.
Istri      : Ok, pak..... Asal Bapak jangan selingkuh saja kalau masalah duit, semuanya terjamin kok pak.
Suami : Beres bu, bapak suami yang jujur kok.
Istri : Janji lho pak, jangan coba-coba bohongi ibu. Oh ya pak, kebutuhan pokok harus secepatnya dipenuhi dalam minggu ini, saya harap bapak tidak mengeluarkan biaya macam-macam selain untuk kebutuhan itu.
Suami : Tenang bu, pasti saya usahakan.
Pada suatu ketika sang suami pulang kerja, di tengah jalan dia melihat se ekor burung cantik dan merdu suaranya dan itu merupakan burung satu-satunya. Tergodalah hatinya untuk membeli burung itu karena hobinya yang suka terhadap hewan peliharaan, walaupun harganya mahal yaitu Rp 500.000,- tetap saja dibelinya. Sesaat ia teringat pesan istrinya agar dapat memenuhi kebutuhan pokoknya dalam minggu-minggu ini dan agar memperketat pengeluarannya, namun hal itu tetap saja diabaikannya.
Dan tak lama kemudian dia pulang ke rumah dengan membawa burung cantiknya tadi.
Istri : Pak, burungnya cakep abis, beli di mana nih, pasti mahal?
Suami : Di jalan Bu, murah kok hanya Rp 100.000,-. Wah sebenarnya ada banyak sih bu, tapi aku pilih satu saja.(Sambil takut dimarahi apabila sang istri tahu harga burung sebenarnya)
Istri : Wah untung ya dapat harga murah cantik lagi burungnya.
Suami : Iyah (sambil tersenyum-senyum).
Pagi harinya suaminya pergi mencari nafkah, mendengar suara burung yang merdu datanglah tetangga yang tertarik pada suara burung tadi. Maka tidak lama kemudian tetangga tadi langsung mengutarakan maksudnya untuk memiliki burung itu kepada sang istri tadi.
Tetangga : Bu, burungnya merdu banget suaranya, boleh gak kubeli seharga Rp 200.000,-. Jika ibu mau, aku bayar sekarang.  
Istri : (Tidak berpikir lama, karena memang sedang membutuhkan duit untuk keperluan keluarga dalam satu minggu ini, dan kebetulan ada yang menawar dengan harga tinggi, dan sang istri/ibu yakin bakal untung besar kalau dijual) “Boleh, ambil saja kalau mau, tunai ya jangan pakai hutang, he..he..”.
Tetangga : Iya donk, nih bu. Ikhlas ya bu.
Istri : Ikhlas dan ridho.
Tak lama beberapa jam kemudian sang suami pulang.
Dan yang terjadi adalah seperti ini :
Suami : Bu, kok burung kesayangannyaku gak ada. Kemana ya bu.
Istri : Kabar baik pak.
Suami : Kabar baik apa bu?
Istri : Burungmu tadi kujual dengan harga Rp 200.000,-, yang pasti untung dua kali lipat pak. Jadi cukuplah pak, untuk tambahan biaya belanja keluarga seminggu ini. Terus bapak kan masih bisa cari burung lainnya. Kemarin kan kata bapak masih banyak burung yang merdu. Ibu pintar kan, pak? He..he..he
Suami : Iya bu pintar (dengan penuh kekesalan dalam hati). ...........(Diam seribu bahasa, tidak bisa bicara sepatah kata pun, karena binatang kesayangannya telah pergi dibeli orang, dalam benak pikirannya dia merasa rugi banyak  atas burungnya yang telah dijual ke tentangganya, dan si suami tidak berani untuk berkata yang sebenarnya dan takut kebohongannya terbongkar, dikarenakan sebelumnya si suami sudah terikat komitmen untuk saling jujur dan terbuka kepada istrinya).
Pelajaran yang menarik di atas adalah tentang jujur pada diri sendiri dan pada istrinya adalah hal yang penting, tanpa harus ditutupi oleh kebohongan-kebohongan.
Meskipun ada hadits nabi yang berbunyi,  berkata Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha, "Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan (rukhshah pada apa yang diucapkan oleh manusia (berdusta) kecuali dalam tiga perkara, yakni: perang, mendamaikan perseteruan/perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau sebaliknya" (HR. Bukhari-Muslim, dalam kitab Riyadhus Shalihin II), tapi bukan berarti semua ucapan suami atau istri bisa dianggap rukshah, namun yang terpenting adalah konteksnya yang tepat. Hal ini penting, karena kalau tidak hati-hati maka akan timbul kebohongan demi kebohongan ditutupi dengan kebohongan lain. Sebagai contoh konteks yang tepat adalah seorang pasien yang didiagnosa dokter bahwa usianya tidak lama lagi, dengan maksud untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohaninya (kestabilan psikologinya) maka dokter tidak langsung menjelaskan penyakit sebenarnya kepada pasien, tapi mungkin hanya  dijelaskan kepada keluarganya saja, atau contoh lain untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bersengketa agar dapat ditemukan jalan keluar terbaik secepatnya, atau bisa juga jerih payah istri atas usahanya memberikan masakan terbaik bagi suaminya, yang padahal suaminya sendiri tidak menyukainya, dan masih banyak contoh lainnya.
Dan dalam konteknya yang lain kita harus jujur apa adanya dan memberikan solusi yang tepat. Misalnya mengajak sang istri ikut kursus masak agar dapat memberikan suguhan terbaik yang baik suaminya. Sehingga suami tidak akan mengatakan enak dan lezat terus bila kenyataannya tidak enak, dan membohongi dirinya sendiri terus menerus pula. Bisa juga suaminya bilang enak, tapi belum tentu bagi orang lain yang bisa saja jadi tamu makan malam atau siangnya.
Poin yang terpenting perlu diingat adalah lebih baik jujur atau benar adanya meskipun itu pahit, daripada disuguhi dengan manisnya kebohongan-kebohongan yang pada hakekatnya itu pahit bagi diri kita, karena suatu saat semua itu pasti ketahuan yang sebenarya. ***
Baca Selengkapnya - Hikmah Kejujuran Berumah Tangga