Tahajjudnya Nabi

|

Allah secara khusus memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menegakkan shalat malam, yang disebut dengan shalat Tahajjud. Ketika itu, beliau sedang gelisah dan berharap-harap cemas, karena sekian lama, sejak pertama kali menerima wahyu di Gua Hiro, wahyu itu tak kunjung juga datang. Hampir beliau putus asa, khawatir Allah SWT meninggalkannya.
Tak berapa lama Allah SWT menurunkan lagi wahyu, kali itu tentang pentingnya shalat Tahajud. “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya, atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran dengan perlahan.”(AS Al-Muzammil : 1-4)
Sejak menerima wahyu tersebut, Rasulullah SAW tak pernah meninggalkan shalat Tahajud, hingga wafat. Meskipun sunnah, shalat Tahajud merupakan ibadah yang sangat penting sesudah shlat rawatib alias shalat wajib, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Isra ayat 79, “Dan pada sebagian malam, bershalat Tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan. Mudah-mudahan Allah mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (maqoman mahmudah) anatara lain dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, “Shalat Tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan penyakit.” (HR. Tirmidzi).
Rasulullah serta para kekasih Allah adalah manusia-manusia teladan dalam hal mendirikan Tahajud atau shalat malam. Atha’bin Abi Rabbah RA, sahabat Rasulullah SAW, dalam sebuah riwayat  pernah berkata, “Suatu hari aku pergi ke rumah Ummul Mu’minin Aisyah RA. Aku bertanya kepadanya tentang perbuatan Nabi Muhammad SAW yang paling menakjubkan. Namun dari semua perbuatan beliau yang sangat menakjubkan itu adalah suatu malam ketika beliau sedang beristirahat tiba-tiba beliau bangkit dari tempatnya lau mengambil air wudhu dan mendirikan sholat dan dalam sholatnya air mata beliau mengalir dengan deras sekali sehingga baju yang beliau kenakan basah. Kemudian beliau bersujud dan begitu derasnya tetesan air mata beliau sehingga tanah pun basah karena iar mata beliau. Hal itu berlangsung hingga tiba waktu subuh’.
Ketika Bilal shalat Subuh bersama Nabi Muhammad SAW dan melihat menanggis dalam shalatnya, ia bertanya, “ Mengapa Tuan menangis begitu? Bukankah Tuan telah terliputi olehkasih sayang Allah SWT?
Rasulullah SAW pun menjawab, “tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur.”

0 komentar:

Poskan Komentar